KARYAcelebes.com// Makassar, Senin 18/05/2026 – Di tengah kondisi ekonomi melemah ,kehidupan orang – orang kecil sangat terasa menghadapi dinamika ekonomi yang demikian .
Salah satu warga yang ditemui di kediamnya , di Makassar , Senin , 18 Mei 2026, mengaku stres menghadapi biaya hidup yang terus meningkat .
Menurutnya, hampir setiap aktivitas kini terasa ada biayanya.
“Kerja tiap hari, uang habis sebelum akhir bulan. Anak sekolah butuh ongkos, uang jajan, biaya transportasi, beli bensin , parkiran bayar, jual beli kena pajak, punya tempat usaha juga bayar lagi,” keluhnya.
Biaya harian keluarga terus bertambah. Orang tua harus memikirkan kebutuhan sekolah anak, mulai dari seragam sekolah hingga bayar yuran SPP belum lagi hal yang tak terduga ongkos kendaraan, harga bahan pokok, hingga biaya kesehatan.
Sementara pemasukan tidak selalu naik mengikuti kebutuhan hidup.
Iuran BPJS Kesehatan yang wajib dibayar setiap bulan juga menjadi sorotan.
Sebagian masyarakat kami merasa pelayanan kesehatan belum sepenuhnya memuaskan ketika digunakan. Di sisi lain, rakyat tetap diwajibkan membayar rutin meski kondisi ekonomi sedang sulit.
Keluhan juga datang dari pajak kendaraan bermotor. Banyak warga mempertanyakan mengapa saat membeli motor sudah ada pajak dalam harga pembelian, tetapi setiap tahun masih harus membayar pajak kendaraan kembali.
Tidak hanya itu, pedagang kecil pun merasa terbebani. Mereka harus membayar biaya tempat jualan, retribusi, parkiran, hingga berbagai pungutan lain agar bisa tetap berdagang. Dalam kondisi daya beli masyarakat menurun, tekanan tersebut terasa semakin berat.
“Yang kecil diduga diperas terus. Mau usaha susah, mau kerja susah. Semua ada bayarannya,” ujar seorang pedagang.
Di tengah situasi itu, masyarakat melihat Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah. Tambang emas, nikel, batu bara, hasil laut, dan berbagai sumber daya lainnya terus dikelola.
Namun banyak rakyat kecil bertanya-tanya mengapa kesejahteraan belum merata.
Kritik terhadap pengelolaan anggaran negara pun semakin tajam. Bantuan pemerintah terkadang dianggap tidak tepat sasaran, bahkan ada yang merasa kesal barang rusak sebelum sampai kepada warga. Kondisi ini memunculkan rasa kecewa dan ketidakpercayaan terhadap sistem.
Akibat dari hal itu muncul
Istilah “tikus berdasi “dimana kembali terdengar sebagai simbol kemarahan terhadap oknum yang dianggap menyalahgunakan kekuasaan dan uang rakyat.
Banyaknya keluhan diduga soal pajak menunjukkan bahwa masyarakat bukan menolak kewajiban sebagai warga negara. Namun mereka berharap ada keadilan, transparansi, dan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat kecil, terutama saat ekonomi sedang melemah.
Bagi masyarakat sederhana, harapan mereka sebenarnya sederhana: hidup layak, biaya tidak terus mencekik, dan hasil kekayaan negara dapat dirasakan oleh seluruh rakyat, bukan hanya segelintir pihak,” tutup mereka .