KARYA CELEBES

Mengungkap Fakta Tanpa Fitnah

Tips Mencegah Kejahatan “Hipnosis” via WA Oleh: Anjar Asmara

Berita Terkait

MAKASSAR, Kamis,30/07/2026//KARYAcelebes.com – Kasus kejahatan yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital bukanlah sebuah peristiwa baru. Dari peretasan internet, penyusupan aplikasi jahat ke _handphone_ (Hp) atau laptop, dan lain sebagainya sudah cukup banyak yang terkuak dan menjadi pemberitaan di banyak media massa. Belum lagi kasus-kasus sejenis yang tidak dilaporkan kepada aparat penegak hukum. Bahkan modus operandi para pelaku kriminal ini juga telah merambah ke para pengguna WhatsApp (WA).

Jika selama ini sebagian orang mengenal kejahatan hipnosis dilakukan di jalanan atau yang menyasar kepada orang-orang tertentu, kini kejahatan hipnosis juga bisa terjadi lewat perangkat _smartphone_, seperti lewat aplikasi WhatsApp yang Anda gunakan untuk keperluan pribadi Anda sehari-hari.

Tetapi, perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud hipnosis disini tidak terkait dengan hal-hal yang bersifat magis atau hipnosis verbal (_telehealth_), yang memang nyata dan sah digunakan untuk manajemen stres dan terapi lainnya, namun pelaku kriminal sebenarnya menggunakan _Social Engineering_ (Rekayasa Sosial), sebuah teknik untuk memanipulasi psikologis dan mematikan fungsi logika korban sehingga korban yang kemudian sadar merasa dirinya telah terhipnotis oleh pelaku kriminal tersebut.

*5 Pola Manipulasi*

Pelaku kejahatan dengan cara memanipulasi pikiran seseorang lewat WhatsApp ini umumnya melakukan penargetan korban secara acak sehingga ia bisa menyasar kepada siapa saja. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui 5 pola manipulasi yang digunakan pelaku kejahatan via WhatsApp, yakni:

1. Otoritas Palsu:

Pelaku memanfaatkan rasa takut masyarakat terhadap figur berwenang dengan modus menyamar sebagai polisi, petugas bank, BPJS, dll, lalu memberi perintah tegas agar korban menyebutkan kode sandi akun bank mereka dengan alasan untuk me-reset sistem.

2. Induksi Darurat (TekananWaktu)

Modusnya pelaku menelepon korban dengan nada yang sangat intimidatif sambil mengancam bahwa ia akan membobol rekening Anda dalam waktu sekian menit sehingga akan memicu kepanikan instan yang bertujuan agar otak rasional Anda berhenti bekerja.

3.Isolasi Pikiran:

Modus ini dilakukan agar Anda tidak berbicara dengan siapa pun, dengan menegaskan bahwa apa yang disampaikan oleh si pelaku merupakan sebuah informasi yang sangat rahasia, misalnya, “Ini rahasia bank! Jangan matikan telepon Anda dan jangan bicara dengan siapa pun!” Tujuannya untuk mencegah Anda mendapat teguran/masukan logis dari orang-orang disekitar Anda yang mungkin curiga malihat perilaku Anda yang diluar kebiasaan.

4. Pengalihan Pikiran

Modusnya mengalihkan pikiran realistis korban ke skenario imajiner pelaku agar korban bisa diarahkan ke sesuatu yang diinginkan pelaku, misalnya menyuruh korban menuju ATM lewat instruksi melalui telepon dan memerintahkan korban melakukan transfer ke rekening lain dengan alasan prosedural yang dirancang agar tidak menimbulkan kecurigaan.

5. Pendekatan Emosional:

Modusnya mengajak mengobrol lama, memuji, dan menunjukkan empati palsu sebelum meminta sesuatu.Tujuannya untuk membangun kepercayaan agar tingkat kewaspadaan korban menurun.

Untuk menghindari manipulasi ini, Anda juga mesti mengenali tanda-tanda bahaya agar Anda bisa mengantisipasi dan segera mengambil tindakan begitu Anda menyadari adanya sesuatu yang tidak beres dari orang yang berinteraksi dengan Anda.

Adapun sinyal-sinyal bahaya tersebut, yakni:

– jika Anda Didesak dan Ditakut-takuti:

Segera tutup telepon. Tarik napas 10 detik agar logika kembali berjalan.

– Jika Anda Diminta Data Rahasia:

Langsung tolak misalkan ada orang yang meminta PIN karena bank/polisi tidak pernah meminta PIN atau OTP lewat WhatsApp.

– Transfer ke “Rekening Aman”:

Abaikan. Ini 100% penipuan. Tidak ada istilah rekening pengaman dalam perbankan.

– Dilarang Cerita ke Orang Lain:

Lawan! Putuskan kontak dan langsung bicara dengan keluarga atau teman terdekat.

– Nada Memaksa/Memerintah:

Ambil sikap tegas. Anda punya hak penuh untuk menolak dan memutuskan komunikasi.

– Mengaku dari Instansi Resmi:

Segera hubungi _call center_ resmi dimana si penipu menjual nama instansi tersebut, dan jangan hiraukan jika Anda diarahkan ke nomor WA tertentu untuk klarifikasi atau diarahkan ke situs web yang tidak dapat dipercaya.

– Terlalu Baik Secara Tiba-tiba:

Anda harus berhati-hati terhadap orang yang baru dikenal lewat aplikasi atau media sosial dan terlihat terlalu baik kepada Anda karena tujuan sebenarnya adalah untuk menarik simpati dan menumbuhkan kepercayaan Anda terhadapnya. Sehingga nantinya Anda bersedia ketika dimintai data pribadi atau bahkan ketika Anda dimintai uang.

Menjaga Kewaspadaan dan Kehati-hatian

Di rimba digital dimana kelengahan adalah peluang bagi para pelaku kejahatan dunia maya, maka menjaga kewaspadaan dan kehati-hatian sangat perlu untuk Anda jadikan prinsip.

Jangan mudah memercayai identitas seseorang hanya dari foto profil atau klaim lewat chat. Selalu hubungi nomor resmi jika seseorang yang tiba-tiba menghubungi Anda mengaku dari instansi pemerintah atau dari perusahaan tertentu untuk memastikan kebenaran informasi.

Jangan pernah bertransaksi lewat panduan telepon, dan ketika seseorang mendesak Anda melakukan transfer atau mengubah pengaturan perbankan via telepon, langsung tutup telepon dan blokir nomor tersebut.

Ingat, pelaku kriminal ini akan memegang kendali pikiran ketika Anda membiarkan pikiran Anda di kontrol olehnya. Karena itu, Anda harus selalu berpikir rasional, analitis dan logis agar pikiran Anda tidak mudah diperdaya oleh orang yang berniat jahat kepada Anda.

Selain menjaga agar jangan sampai WhatsApp Anda diretas orang, yang juga penting untuk Anda sadari adalah, Anda jangan mudah tergiur oleh sesuatu yang bernilai fantastis yang ditawarkan oleh orang yang tidak Anda kenal, atau baru Anda kenal. Termasuk ketika Anda mendapat ancaman dari orang tidak dikenal yang mengontak Anda via WA, karena pelaku sebenarnya ingin mengambil keuntungan jika ia berhasil memanipulasi dan menguasai pikiran Anda.***

Bagikan:

Mengungkap Fakta Tanpa Fitnah