KARYAcelebes.com// MAKASSAR, Kamis 10/09/2026 :

Meski diingatkan untuk tidak menyalip aturan hukum masih saja terjadi benturan masa yang membenturkan antara kelompok yang mempertahankan dan memperebutkan lokasi lahan sengketa tanah .
Kondisi yang demikian tentu tidak diinginkan karena pasti ada yang menjadi korban , dari kekerasan itu , ada yang kena Busur ada yang kena tombak , dan ada juga kena benda keras lain-nya .
Semuanya itu terjadi karena salah satu pemicunya diduga kerasnya ketimpangan sosial , keterbatasan lapangan kerja , serta konflik / kasus sewa yang berkaitan dengan sengketa lahan .
Keadaan yang demikiaan meski mereka tahu taruhan-nya ,nyawa masih saja mereka lakukan hanya karena untuk mendapatkan uang untuk biaya hidup anak dan istri dirumah . Karena dengan bayaran yang demikian dapat membantu roda ekonomi keluarga untuk beberapa minggu kedepan,” ujar As .
Apa yang kami lakukan itu hanya karena belum mendapat pekerjaan , andaikan sudah punya pekerjaan tentu tak mau terlibat pada profesi bayaran yang demikian karena sangat berbahaya, kalau bukan luka , cacat dan lebih dari itu bisa saja mati , kami tahu tidak diansuransi jiwa tapi mau bilang apa kondisi ekonomi kami sangat terjepit maka kami tetap saja trima karena lagi membutuhkan dana untuk tambahan biaya uang sekolah anak yang lagi kami butuhkan ,” ujar Am .
Sementara pengamat sosial yang diminta komentarnya seputar akan hal itu , mereka menuturkan bahwa fenomena yang diduga saling membusur yang terjadi disejumlah titik diwilayah Makassar yang mereka amati , tidak dapat dilihat semata – mata sebagai persoalan kenakalan atau tindakan kriminal yang berdiri sendiri . tapi dibalik dari persoalan yang terjadi dengan kekerasan itu , terdapat persoalan sosial yang lebih kompleks yang saling berkaitan .
Dimana ada Ketimpangan sosial , keterbatasan lapangan pekerjaan , kemiskinan , serta lemahnya akses sebagian masyarakat terhadap pendidikan dan kesempatan ekonomi dapat menjadi bagian dari kondisi yang membentuk lingkungan sosial yang rentan terhadap konflik .
Makassar kita tahu merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia Timur yang mengalami perkembangan kota yang cukup pesat . Namun , pertumbuhan itu tidak selalu berjalan seimbang dengan pemerataan kesejahteraan .
Sebagian masyarakat masih menghadapi kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak dan penghasilan belum stabil dan jika ada penawaran yang sifatnya instan atau lebih cepat dapat Uang maka mereka mau ikut terlibat .
Dalam kondisi tertentu , tekanan ekonomi dapat memicu memperbesar rasa frustrasi , ketidak percayaan terhadap lingkungan sosial , dan keterlibatan generasi muda dalam kelompok – kelompok yang menjadikan kekerasan sebagai cara menunjukkan eksistensi maupun mempertahankan wilayah .
Persoalan tersebut semakin kompleks ketika berhadapan dengan masalah penguasaan dan pemanfaatan lahan . Kasus sewa -menyewa , perebutan ruang hidup , maupun sengketa lahan dapat menciptakan ketegangan antara individu atau antar kelompok .
Ketika mekanisme penyelesaian konflik formal tidak berjalan efektif atau disinyalir tidak dipercaya oleh masyarakat , konflik yang pada awalnya bersifat sosial dan ekonomi berpotensi berkembang menjadi perselisihan terbuka ditingkat komunitas .
Dalam konteks inilah fenomena saling membusur bukan hanya sebuah alat yang digunakan dalam kekerasan , tetapi dapat menjadi simbol dari persoalan yang lebih dalam : ketimpangan , keterbatasan kesempatan ekonomi , konflik ruang hidup , lemahnya kontrol sosial , dan kegagalan sebagian masyarakat dalam menemukan mekanisme penyelesaian konflik yang damai .
Oleh karena itu penangan fenomena “perang busur ” tidak cukup hanya melalui pendekatan keamanan , tetapi juga membutuhkan upaya memperluas lapangan kerja , memperkuat pendidikan dan pembinaan pemuda , menyelesaikan sengketa lahan secara adil , serta membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum dan pemerintah .
Dengan demikian , memahami kekerasan yang menggunakan busur jangan hanya melihat persoalan tersebut bukan hanya dari apa yang terjadi di jalanan , tetapi juga dari kondisi sosial dan ekonomi yang berada di baliknya .
# Redaksi KARYAcelebes.com
#( Tim )