KARYA CELEBES

Mengungkap Fakta Tanpa Fitnah

MENGUJI KREDIBILITAS SURVEI TEMPO DATA SCIENCE SOAL KINERJA PRABOWO–GIBRAN DAN DINAMIKA POLITIK NASIONAL

Berita Terkait

Oleh: R. HAIDAR ALWI – Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB

JAKARTA, Jum’at 28/08/2026// KARYAcelebes.com– Survei Nasional Tempo Data Science 2026 belum layak diperlakukan sebagai potret utuh pendapat rakyat Indonesia.

Laporan setebal 50 halaman itu berani menyimpulkan kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran tinggal 37 persen, elektabilitas Dedi Mulyadi mencapai 42 persen, serta dukungan terhadap Prabowo terus merosot.

Tempo Data Science menyebut survei melibatkan 1.260 responden di 38 provinsi melalui multistage random sampling dengan margin of error ±2,9 persen.

Tidak dijelaskan kerangka sampel, jumlah kabupaten, kecamatan, desa, blok sensus, jumlah klaster, cara memilih rumah tangga, cara menentukan responden dalam rumah tangga, jumlah penolakan, penggantian responden, response rate, pembobotan, design effect, maupun effective sample size.

Tanpa informasi tersebut, klaim bahwa setiap warga memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai responden belum dapat dibuktikan. Istilah multistage random sampling akhirnya hanya menjadi label metodologis, bukan prosedur yang dapat diperiksa.

Margin of error ±2,9 persen juga berpotensi menyesatkan apabila diperlakukan sebagai jaminan ketepatan seluruh hasil. Angka itu mendekati perhitungan simple random sampling untuk 1.260 responden.

Padahal Tempo mengaku memakai sampling bertingkat dan berklaster. Desain seperti itu lazimnya meningkatkan ketidakpastian karena responden dalam satu wilayah cenderung memiliki karakteristik yang serupa.

Jika design effect survei mencapai 1,5, margin of error nasional dapat melebar menjadi sekitar ±3,4 poin. Jika design effect mencapai 2, ketidakpastiannya menjadi sekitar ±3,9 poin. Tempo Data Science tidak membuka design effect, sehingga angka ±2,9 persen tidak dapat diverifikasi.

Lebih fatal lagi, margin of error nasional itu tidak berlaku untuk analisis provinsi, kelompok usia, penerima program, pendukung tokoh, dan pemilih partai.

Banten hanya menyumbang sekitar 4,4 persen sampel atau kurang lebih 55 responden. Ketika laporan menyebut ketidakpuasan di Banten mencapai 76 persen, margin of error sederhananya sudah berada di kisaran ±11 poin. Angka tersebut dapat lebih lebar setelah memperhitungkan klaster dan pembobotan.

Hal yang sama terjadi ketika Tempo Data Science menyatakan ketidakpuasan penerima MBG tertinggi berada di Banten sebesar 65 persen. Jika proporsi penerima MBG di Banten mengikuti angka nasional, kesimpulan itu mungkin hanya bertumpu pada sekitar 30 responden. Ketidakpastiannya dapat melampaui ±16 poin.

Menobatkan suatu provinsi sebagai yang tertinggi berdasarkan basis sekecil itu merupakan klaim yang jauh lebih besar daripada kemampuan datanya.

Kelemahan paling jelas terlihat pada analisis perpindahan pemilih PSI. Laporan menyebut sekitar 1 persen responden mengaku memilih PSI pada Pemilu 2024. Satu persen dari 1.260 responden hanya sekitar 13 orang. Dari kelompok sangat kecil itu, Tempo Data Science menyimpulkan 28 persen suara PSI berpindah ke Golkar.

Secara kasar, angka 28 persen tersebut dapat mewakili hanya tiga atau empat orang. Data tiga atau empat responden kemudian diubah menjadi narasi perpindahan suara partai secara nasional. Ini bukan presisi, tapi kesimpulan dari basis yang secara statistik tidak memadai.

Analisis citra tokoh juga menghadapi persoalan serupa. Penilaian terhadap Gibran dibangun dari 61 responden, Ganjar 50 responden, dan AHY hanya 40 responden. Pada basis 40 responden, margin of error sederhana dapat mencapai sekitar ±15 poin. Perbedaan antartokoh yang terlihat besar dalam grafik belum tentu bermakna secara statistik.

Laporan ini juga mengandung inkonsistensi internal. Pada halaman 19, skor kepuasan Prabowo ditampilkan sebesar 5,8, Prabowo–Gibran 5,7, dan Gibran 5,3. Namun, kotak kesimpulan pada halaman yang sama menyebut skor rata-rata Prabowo–Gibran sebesar 5,8. Dua angka berbeda digunakan untuk objek yang sama.

Executive summary menyebut 29 persen responden belum menentukan atau merahasiakan pilihan partai. Grafik pilihan partai hanya menunjukkan 24 persen. Bagian “Top 5 Alasan” menampilkan enam alasan. Elektabilitas dalam format terbuka hanya berjumlah sekitar 86 persen, sementara format dengan daftar nama hanya sekitar 92 persen. Sisa jawaban tidak dijelaskan secara memadai.

Klaim kesan positif terhadap Dedi Mulyadi sebesar 98 persen juga menggunakan denominator yang berbeda dari grafik. Grafik menunjukkan 73 persen positif dan 22 persen sangat positif, sehingga totalnya 95 persen. Angka 98 persen baru muncul setelah jawaban tidak tahu dikeluarkan dari perhitungan. Perubahan basis tersebut tidak dijelaskan kepada pembaca.

Temuan MBG tidak kalah problematis. Executive summary menyebut awareness MBG hampir 99 persen dan lebih dari separuh masyarakat yang mengetahui program itu menilai pelaksanaannya kurang baik.

Namun, laporan tidak menyajikan instrumen, tabel, kategori jawaban, maupun basis responden yang menghasilkan angka tersebut. Klaim penting dimasukkan ke dalam kesimpulan tanpa membuka data pendukungnya.

Perbandingan tren Desember 2025, Februari atau Maret 2026, dan Agustus 2026 juga belum dapat dipertanggungjawabkan. Laporan tidak membuktikan bahwa seluruh gelombang memakai redaksi instrumen, metode wawancara, populasi, desain sampel, pembobotan, dan penyelenggara yang sama.

Pada satu bagian digunakan Maret 2026, sedangkan bagian lain menggunakan Februari 2026. Catatan grafik elektabilitas partai bahkan menyebut data survei sebelumnya “diberikan pengguna”, tanpa menjelaskan siapa pengguna tersebut dan siapa yang menjalankan surveinya.

Penurunan kepuasan dari 75 persen menjadi 37 persen juga disebut mencapai minus 38 persen. Secara statistik, perubahan itu adalah penurunan 38 poin persentase. Penurunan relatifnya sekitar 50,7 persen.

Kekeliruan membedakan persen dengan poin persentase memperlihatkan lemahnya pengendalian mutu pada laporan yang mengklaim menggunakan analisis data tingkat lanjut.

Tempo Data Science kemudian melangkah lebih jauh dengan menyatakan turunnya kepuasan publik berimbas pada elektabilitas Prabowo. Kesimpulan sebab-akibat itu tidak dapat dihasilkan hanya dari survei potong lintang.

Laporan tidak memperlihatkan tabulasi silang antara kepuasan dan pilihan presiden, tidak menggunakan panel responden yang sama, serta tidak mengendalikan faktor ekonomi, identitas politik, popularitas tokoh, atau kecenderungan partisan.

Pernyataan bahwa dukungan Jokowi belum berdampak terhadap PSI juga tidak terbukti. Survei hanya merekam jawaban hipotetis responden.

Tidak ada pengukuran sebelum dan sesudah dukungan, tidak ada kelompok pembanding, dan tidak ada eksperimen. Yang ditemukan hanyalah persepsi responden, bukan bukti dampak politik.

Komposisi sampel yang hampir persis sama dengan populasi turut menimbulkan persoalan. Proporsi laki-laki dan perempuan tepat 50:50. Proporsi desa dan kota juga persis sama dengan populasi. Distribusi usia hampir menempel sempurna pada target populasi.

Kondisi itu menunjukkan kemungkinan penggunaan kuota atau pembobotan. Namun, laporan tidak menjelaskan apakah angka yang ditampilkan merupakan sampel mentah atau hasil pembobotan.

Jika menggunakan kuota, klaim peluang yang sama menjadi lemah. Jika menggunakan pembobotan, Tempo Data Science wajib membuka variabel pembobotan, rentang bobot, trimming, dan pengaruhnya terhadap ketidakpastian hasil.

Identitas pihak yang membiayai atau memesan survei juga tidak dicantumkan. Padahal Tempo Data Science menyatakan dirinya sebagai unit bisnis yang menyediakan riset, komunikasi strategis, dan publikasi.

Dalam survei politik, publik berhak mengetahui siapa sponsor, siapa penyusun instrumen, siapa pemasok data pembanding, dan sejauh mana pihak tersebut terlibat dalam pemilihan isu serta tokoh yang diuji.

Seluruh kelemahan ini tidak otomatis membuktikan bahwa data Tempo Data Science dipalsukan. Namun, beban pembuktian berada pada lembaga yang mengklaim surveinya representatif, objektif, akurat, dan menggunakan metodologi ilmiah yang ketat. Publik tidak dapat dipaksa mempercayai angka yang proses pembentukannya tidak dibuka.

Laporan tersebut baru menjadi presentasi politik yang dihiasi angka statistik. Grafiknya terlihat meyakinkan, persentasenya tampak presisi, dan kesimpulannya terdengar tegas. Namun, fondasi ilmiahnya masih tertutup.

Survei yang tidak membuka cara kerjanya tidak sedang meminta publik memeriksa kebenaran, melainkan hanya meminta publik untuk percaya.

*Terimakasih*

Bagikan:

Mengungkap Fakta Tanpa Fitnah