JAKARTA, 28/09/2026// KARYAcelebes.com – Guruh Soekarnoputra lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953 sebagai anak bungsu dari Presiden pertama Indonesia, Soekarno dan Fatmawati. Sejak kecil, Guruh tumbuh dalam atmosfer yang sangat artistik. Sang ibu, Fatmawati, dikenal piawai memainkan seni dan ayahnya sangat mencintai seni rupa.
Namun masa kecilnya juga diwarnai gejolak politik. Setelah peristiwa 1965, ia hidup dalam pengawasan ketat dan merasakan bagaimana menjadi anak seorang tokoh yang jatuh dari kekuasaan.
Pengalaman inilah yang kemudian membentuk kepekaannya terhadap identitas kebangsaan, yang nantinya ia tuangkan ke dalam karya seni. Guruh sempat menempuh pendidikan formal di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, namun tidak diselesaikan.
*Kehidupan Pribadi*
Guruh Soekarnoputra dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga privasi, terutama jika itu menyangkut kehidupan pribadinya. Berbeda ketika berbicara tentang seni dan kebudayaan, ia akan menjadi sosok yang penuh semangat dan terbuka.
Guruh diketahui menikah sebanyak dua kali. Dari pernikahan pertamanya dengan Gus Harismulyani, ia dikaruniai seorang putri yang diberi nama Puti Guntur Soekarno. Puti kini juga terjun ke politik. Ia kemudian menikah lagi dengan Sabina Padmavati.
Selain dikenal sangat menjaga privasi, Guruh juga merupakan sosok yang sangat disiplin soal estetika dan dia adalah seorang vegetarian. Sanggarnya di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, juga menjadi museum yang berisi koleksi topeng, wayang, dan rekaman langka yang menjadi saksi bisu akan kiprahnya di dunia kesenian dan kebudayaan.
Guruh Soekarnoputra adalah bukti bahwa darah Soekarno tidak hanya mengalir sebagai darah politik, tetapi juga sebagai darah seni.
Jika Bung Karno membangun Indonesia dengan kobaran semangat nasionalisme dan ideologi, Guruh menyempurnakan pembangunan itu dengan nada, gerak, dan warna kebangsaan yang ia tularkan kepada generasi muda agar mereka memiliki jati diri yang kuat sebagai anak bangsa Indonesia.
*Mengabdikan Hidup pada Seni dan Kebudayaan*
Berbeda dari saudara-saudaranya yang banyak terjun ke dunia politik praktis, Guruh justru memilih jalan yang sama sekali berbeda. Ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk seni dan kebudayaan.
Panggilan jiwanya ternyata bukan di ruang kelas teori, atau di panggung politik, melainkan di sanggar tari, studio musik, dan panggung pertunjukan. Ia belajar tari Jawa, Bali, Sunda, dan Sumatera secara otodidak dan berguru langsung pada maestro-maestro tradisional.
Puncak awal kariernya terjadi pada tahun 1970-an ketika ia mendirikan *Swara Maharddhika*. Ini bukan sekadar grup musik atau sanggar tari biasa. Swara Maharddhika adalah laboratorium budaya tempat ia bereksperimen menggabungkan gamelan Jawa, angklung, tetabuhan Bali dengan instrumen modern seperti gitar elektrik, drum, dan _brass section_. Konsepnya revolusioner pada zamannya.
Dari laboratorium itu lahir karya-karya legendaris. Album _Guruh Gipsy_ (1977) yang dibuat bersama band Gipsy – cikal bakal God Bless – dianggap sebagai tonggak awal musik rock progresif dan _world music_ Indonesia. Lagu seperti “Indonesia Maharddhika” dan “Chopin Larung” menunjukkan keberaniannya menabrak pakem.
*Lagu-lagu Populer*
Kepiawaian Guruh dalam menciptakan lagu populer juga luar biasa. Ia adalah sosok di balik lagu-lagu abadi yang dinyanyikan oleh penyanyi papan atas dan menjadi hits pada zamannya.
Berikut beberapa lagu populer buah karya Guruh Soekarnoputra:
– “Melati Suci”, dipopulerkan oleh Gita Gutawa,
– “Kala Cinta Menggoda” yang menjadi hits besar Chrisye,
– “Giliranku” dan “Surat Untuk Kekasih” yang melambungkan nama Rafika Duri,
– “Pergi Untuk Kembali”, dinyanyikan oleh Rita Butar-butar.
Lirik puitis yang dalam dengan melodi yang sulit namun megah dikenal sebagai ciri khas Guruh dalam setiap karya lagunya.
*Merambah ke Dunia Film*
Tidak berhenti di musik, Guruh melebarkan sayap ke dunia perfilman dan tari kolosal. Ia menjadi sutradara dan penata artistik untuk film musikal _Untukmu Indonesiaku!_ (1990) yang melibatkan ratusan penari dan musisi dari seluruh Indonesia.
Karya ini memecahkan rekor MURI dan menjadi bukti obsesinya pada konsep kebhinekaan dalam satu panggung. Ia juga rutin menggelar pagelaran tari kolosal di Istora Senayan yang selalu memukau karena detail kostum dan koreografi yang sangat kaya.
Hubungan Guruh dengan dunia politik bersifat tarik-ulur. Ia pernah menjadi anggota DPR RI dari PDI Perjuangan selama beberapa periode (1992-2004 dan 2009-2014). Namun di Senayan, ia lebih dikenal sebagai juru bicara kebudayaan daripada politikus yang berdebat soal anggaran.
Guruh sering mengkritik kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada pelestarian budaya. Setelah itu ia memilih kembali ke habitat aslinya sebagai seniman.
*Kembali ke Sang Pencipta*
Di usia 70-an, Guruh masih aktif berkesenian. Ia menjadi guru besar tidak resmi bagi banyak seniman muda. Pemikirannya tentang Nasionalisme Budaya – bahwa Indonesia harus jaya melalui kebudayaannya sendiri, adalah ‘dogma’ yang ia tanamkan kepada siapa saja yang menimba ilmu kepadanya. Namun di balik semangat itu, kondisi fisiknya perlahan menurun.
Kabar duka itu datang pada Sabtu pagi. Setelah sempat menjalani perawatan intensif selama sekitar empat minggu di RS Medistra Jakarta dan kemudian dalam kondisi kritis di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, Guruh akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.
Guruh Soekarnoputra berpulang ke Sang Pencipta pada Sabtu, 26 September 2026, sekira pukul 04.16 WIB dalam usia 73 tahun di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta.
Kabar kepergiannya dibenarkan keluarga dan dikonfirmasi secara resmi oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto dengan ucapan: _”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra Bin Soekarno”_.
Jenazah Almarhum disemayamkan di rumah duka yang juga menjadi sanggar dan museum hidupnya selama ini, di Jalan Sriwijaya Raya No. 26, Jakarta Selatan, tempat yang selama puluhan tahun menjadi saksi lahirnya karya-karya besarnya.
Almarhum Guruh Soekarnoputra dimakamkan pada Sabtu, 26 September 2026 di TPU Karet Bivak, Jakarta, di samping makam ibunda tercinta, Fatmawati.
Kepergian Guruh Soekarnoputra bukan hanya duka bagi keluarga besar Soekarno, tetapi duka bagi seluruh Indonesia.
Kini sang maestro telah pergi menghadap sang pencipta, namun Swara Maharddhika yang ia ciptakan akan terus menggema di Tanah Nusantara.***